Seputar SeputarRangkuman praktis dan ulasan ringan untuk keseharian.
general

Bukan Barang Bekas Biasa: Kenapa Thrifting dan Preloved Makin Digandrungi

Fenomena thrifting dan belanja barang preloved makin ramai di Indonesia. Dari sisi ekonomi, lingkungan, hingga alasan unik para pelakunya.

29 May 2026 · 2 menit baca · oleh Hardi Kartono Pratama
Bukan Barang Bekas Biasa: Kenapa Thrifting dan Preloved Makin Digandrungi

Beberapa bulan terakhir saya lihat tetangga di Kotasingaraja mulai sering bawa kardus besar dari jasa ekspedisi. Isinya bukan barng baru, tapi baju dan peralatan rumah tangga bekas yang dibeli lewat aplikasi. Awalnya saya kira cuma iseng, ternyta bukan. Banyak yang mulai beralih ke barang preloved, bukan karena terpaksa, tapi karena paham nilainya. Saya ikut-ikutan coba, dan lama-lama ketagihan.

Kenapa Barang Bekas Kini Punya Pasar Sendiri

Dulu beli barng bekas identik dengan lapak di pinggir jalan. Sekarang beda. Platform jual-beli daring seperti Shopee, Tokopedia, dan aplikasi khusus thrifting bikin orang nyaman. Prosesnya cepat, fotonya jelas, penjualnya juga ramah. Di Kotasingaraja, grup Facebook jual-beli barang bekas masih aktif. Dari situ saya belajar bahwa barang bekas bukan berarti murahan. Banyak yang nyaris baru cuma karena tidak sesuai ukuran atau kurang dipakai.

Dari sisi lingkungan, tren thrifting jadi respons atas limbah fast fashion. Daripada baju cuma dipakai dua kali lalu dibuang, lebih baik dialihkan ke orang yang lebih butuh. Di komunitas pecinta barang vintage, setiap barang punya cerita. Saya pernah beli jaket denim tua, dan di sakunya ada tiket bioskop tahun 2005. Hal kecil semacam itu bikin belanja barang bekas terasa berbeda. Ekonomis juga jelas terasa. Harga preloved bisa setengah sampai seperempat harga baru, apalagi untuk merek tertentu. Saya sendiri udah menjadikan thrifting sebagai kebiasaan. Kalau mau cari perlengkapan elektronik, mampir dulu ke forum jual-beli bekas. Kadang dapat barang yang masih bergaransi resmi tapi harganya jauh di bawah mall.

Fenomena ini juga mendorong lahirnya bisnis kurasi barang bekas. Ada yang khusus jual baju thrift impor, ada yang fokus peralatan dapur. Di media sosial, akun-akun thrift shop skarang punya pengikut ribuan. Mereka rajin posting foto dengan gaya estetik, bikin orang tak ragu membeli. Dari sisi sosial, tren ini mengubah persepsi bahwa barang bekas itu kampungan. Justru sekarang jadi simbol peduli lingkungan dan sikap smart dalam belanja.

Bagi saya, thrifting sudah jadi semacam hobi yang menghubungkan saya dengan banyak komunitas. Saya jadi tahu forum diskusi soal perawatan barang vintage, tempat servis sepatu lawas, bahkan cara memperbaiki barang rusak. Ilmu-ilmu kecil ini jarang didapat kalau cuma beli barang baru Konteks tambahan ada di seputar murah.

Banyak yang mulai sadar bahwa membeli barang bekas bukan sekadar irit, tapi juga cara untuk hidup lebih sederhana dan bertanggung jawab. Tren ini kayaknya bakal terus berkembang, apalagi dengan makin banyaknya platform yang memudahkan transaksi. Kalau belum pernah coba, mungkin ini saatnya lihat-lihat apa yang ditawarkan. Siapa tahu nemu barang yang pas dengan cerita.

Sumber lanjutan: sumber resmi

Tag: #tren #komunitas #gaya hidup